CINTA NEGERIKU

RIAU UNTUK INDONESIA

Facebook | Twitter | Advertise

Sungai Citarum, Contoh Misi Penyelamatan Sungai.

Kamis, November 07, 2013

Sungai Citarum
JAKARTA, RIAUGREEN.COM -Untuk pertamakalinya di dunia, Indonesia menjadi tuan rumah Riverboarding World Championship. Pesertanya sebanyak 42 orang datang dari sembilan negara yang tersebar di lima benua. Penyelenggaraannya tidak tanggung-tanggung, langsung di Sungai Citarum yang membentang sepanjang 297 kilometer dari selatan Kota Bandung hingga ke Jakarta.

Ketua Penyelenggara, Rahim Asyik Budi Santoso mengatakan, kejuaraan yang berlangsung mulai tanggal 6-10 November 2013 ini memang sengaja mengambil lokasi di Sungai Citarum, yang selama ini dikenal sebagai sungai terkotor di dunia versi National Geographic pada tahun 2010 lalu. “Kita memang sengaja menyelenggarakannya di sini. Ini salah satu upaya nyata untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dan pemerintah soal pentingnya penyelamatan Sungai Citarum,” ujar Rahim sembari memaparkan tema kejuaraan ini adalah “Save The Future of Citarum River”.

Selama ini, kata Rahim, kebanyakan orang hanya mengetahui Sungai Citarum dari reputasinya sebagai sungai terkotor. Tapi mereka tidak mengetahui banyak soal potensi yang ada di sana.

Selain masih ada bagian yang ‘bersih’ di hilir Pembangkit Listrik Tenaga Air Saguling, sungai ini juga bisa dipakai untuk olahraga arus deras seperti kayak, arung jeram, dan riverboarding. Potensi airnya juga dimanfaatkan pemerintah untuk menerangi peradaban di Pulau Jawa dan Bali. Maklum saja, pembangkit listrik tenaga air ini termasuk dalam jaringan listrik Pulau Jawa-Bali.

Itu belum termasuk manfaat ekonominya. Ribuan bahkan jutaan orang hidup dari sungai tersebut. Tidak percaya? Tengok saja para petani serta peternak ikan yang ada di daerah hulu. Belum lagi pasokan air Sungai Citarum ini, sekitar 80 persennya dipakai untuk memenuhi kebutuhan air minum penduduk di Jakarta. Akhirnya seluruh air itu bermuara ke Laut Jawa.

Badan Pusat Statistik melansir data pada tahun 2009, masyarakat yang hidup di pinggiran sungai tersebut mencapai sedikitnya 15,3 juta. Sekitar 50 persennya hidup dari urban area.

Pada masa lalu, sungai ini juga digunakan sebagai benteng alamiah bagi para pejuang dari serbuan musuh. Para pejuang memanfaatkan aliran Citarum yang memanjang dari Tanjungpura (Karawang)-Rengasdengklok-hingga ke Laut Jawa sepanjang 60 kilometer.

Jepang pun sempat mengincar Rengasdengklok untuk dijadikan benteng pertahanan menghadapi Sekutu. Setidaknya demikian yang tercantum dalam Ensklikopedi Nasional Indonesia terbitan Delta Pamungkas tahun 1997.

Jika menilik ke belakang, sungai ini juga ikut membangun peradaban Kerajaan Tarumanagara, kerajaan Hindu terbesar dan tertua di wilayah Jawa Barat. Sisa-sisa peradaban kerajaan yang dibangun pada abad ke-5 itu bisa kita lihat di kompleks percandian Batfu Jaya, Karawang.

Seiring waktu, beban sungai itu semakin bertambah. Balai Besar Wilayah Sungai Citarum pada tahun 2011 melansir kondisi daerah aliran Sungai Citarum terus menurun. Penyebabnya, penebangan hutan secara liar, pengolahan lahan yang kurang tepat, serta perkembangan industri, dan pertumbuhan penduduk di aliran sungai.

Data yang sama menyatakan luas lahan kritis di daerah aliran Sungai Citarum bagian hulu atau di wilayah Cekungan Bandung mencapai 46.543 hektare atau 20 persen dari luas Cekungan Bandung sebesar 234.088 hektare.

Rahim mengungkapkan, pihaknya berharap kejuaraan riverboarding bisa jadi pintu masuk untuk menyelesaikan secara perlahan-lahan masalah tersebut. Rahim mengaku, dirinya sudah memiliki komitmen dan mendapatkan dukungan dari Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan untuk menangani rehabilitasi di bagian hulu. “Kami tidak muluk-muluk. Kami melakukan yang kami bisa pada area 10 kilometer dari Danau Cisanti yang menjadi mata air Sungai Citarum,” kata Rahim yang ikut terlibat dalam tim Citarum Recovery Program.

Pada program tersebut, Rahim memfokuskan pembenahan di bagian hulu yang bermasalah dengan alih fungsi lahan hutan serta pembuangan kotoran ternak yang langsung masuk ke aliran sungai. “Kami sudah punya data primer terkait jumlah kandang sapi, demografi penduduk, serta keberadaan mata air di sana. Pendataan kami lakukan pada bulan Juni tahun 2013,” imbuhnya.

Rahim mengemukakan, solusi untuk menangani dua masalah itu adalah dengan melakukan intensifikasi pertanian. Secara teknis, lahan pertanian harus diperkecil dan diganti tanamannya. Sementara untuk kotoran sapi, mau tidak mau, para peternak harus mau memindahkan kandangnya sehingga menjauh dari aliran sungai. “Kotoran sapi itu akan kita kelola secara komunal sehingga bisa dimanfaatkan untuk jadi biogas atau pupuk organik,” terang Rahim.

Meski demikian, upaya itu tidak mudah. Rahim mengungkapkan, di daerah hulu setidaknya ada 62 komunitas masyarakat yang harus digandeng untuk melakukan perubahan tersebut secara bersama-sama.

Soal pembenahan di daerah hulu, Rahim menjelaskan, setidaknya ada 159 titik mata air yang berpotensi menjadi sumber air buat Sungai Citarum. Keberadaan mata air ini harus dilindungi oleh lingkungan sekitarnya.

“Kondisi mata air saat ini cenderung baik tapi kondisi tutupan di sana sudah rusak. Debit airnya ada yang 10 liter per detik sampai 500 liter per detik. Kalau itu tidak diselamatkan bisa hilang mata airnya,” ujar Gunawan, salah seorang relawan Citarum Recovery Program.

Penyelamatan sungai serupa sedang dilakukan oleh Charl van Rensburg dari Cape Town, Afrika Selatan. Peselancar sungai ini melakukan edukasi kepada penduduk di bantaran Sungai Dwars yang memiliki potensi sebagai lokasi olahraga arus deras. Penduduk di sana, kata dia, memiliki kebiasaan untuk membuang sampah ke sungai. Kondisi itu membuat sungai yang memiliki grade IV (butuh keahlian untuk mengarunginya) tersebut menjadi sangat kotor.

Saking kotornya, Charl harus menjalani perawatan di rumah sakit karena menelan air saat melakukan pengarungan sungai tersebut tahun 2009 lalu. “Saya didiagnosa terkena bakteri dan harus dirawat selama dua pekan,” ujarnya.

Butuh komitmen dan kerja keras untuk memberikan kesadaran pada masyarakat soal pentingnya sungai yang bersih. Pada akhirnya, kata Charl, beberapa lembaga swadaya masyarakat mau turun dan membantu memulihkan kondisi sungai.

Di bagian dunia yang lain, saat ini, dua orang peselancar sungai, Remy Camus dari Perancis dan Ray Chaplin dari Afrika Selatan tengah melakukan hal serupa. Bedanya, dua orang penjelajah ini melakukan perjalanan solo di Sungai Mekhong, Asia dan Sungai Orange, Afrika.

“Remy menjejalahi sungai sepanjang 4 ribu kilometer sedangkan Ray turun di sungai sepanjang 2.300 kilometer. Mereka melakukannya untuk isu air bersih yang aman untuk dikonsumsi penduduk.

Dalam perjalanannya, mereka berhenti di tempat penduduk dan memberikan materi soal pentingnya menjaga kebersihan sungai,” terang Josh Galt dari Face Level Industries yang menyelenggarakan kejuaraan ini bersama Indonesian Riverboarding Association.(Rby/Yahoo)

0 komentar:

Posting Komentar


Bupati Bengkalis Santuni 605 Anak Yatim-Kaum Dhuafa di Mandau

Bupati Bengkalis Serahkan Bantuan di Mesjid Baitulrahmah Duri

Dihadiri Bupati, Kajari Bengkalis Gelar Buka Puasa Bersama

Lingkungan

NASIONAL/ INTERNASIONAL

POLITIK

HUKUM & KRIMINAL

EKONOMI

MIGAS

UNIK&ANEH

OLAHRAGA

AUTO

TEKNOLOGI

 

SOSIAL

PENDIDIKAN

SENI & BUDAYA

All Rights Reserved © 2012 RiauGreen.com | Redaksi | Riau